Senin, 26 Juli 2021

SUMPAH SERAPAH

 Empat tahun yang berat untuk dilalui...

Bersama hilangmu dari sisi, lalu berbekas dihati, sampai akhirnya bayangmupun perlahan pergi sampai hanya semua tinggal memori..

takada sedikitpun sakit hati, walau hanya banyak sekali tanya dalam hati, seperti hujan abu gunung merapi..

seolah saat itu menutupi semua yang terlihat dan selalu hadir bersama detak urat nadi, seperti sapi terikat tali...

aku berjuang, berdo'a, walau merangkak, hidup dihari ini sampai besok pagi, dan terus begitu setiap hari, jelas, tanpa lupa aku pura-pura bahagia...

aku selalu berharap semua yang terjadi akan kembali lagi seperti hari biasanya saat kita berdua habiskan hari, bertengkar, lalu baikan lagi...

tapi kali ini ternyata beda, setahun kepergianmu aku rayakan pulang kerumah berharap hati terobati, tapi aku benci...

sebuah pesan masuk, " hey... aku akan menikah "  tanpa bertanya kabar, tanpa mau tau apa yang sedang kualalmi...

teruntuk kalian semua yang mengalami kejadian diatas, tenang dan

percayalah
itu baru awal kesakitan
...
lalu untuk kalian yang pergi seperti kisah diatas, selamat berbahagia atas pilihan hati, walau, sedikit melukai hati yang lain, dan percayalah, sulit diobati.....

Jumat, 13 Maret 2020

Setengah

Huuh....
Sumpah aku lelah..
Setelah menyeka helai demi helai lembar risalah...entahlah, yang terlihat hanya binar keluh kesah...
Tapi lirih mendesah...terjambak arus sungai filsafah...
Semua disana berkumpul bertarung agar jadi penengah....
Lalu aku disudut dengan pipi sedikit basah
Bercengkrama dengan tembok silsilah...
Kenapalah harus ada gelisah?
Wajahku pucat sudah...
Telah bersimbah mencoba bangkit dengan apapun sudah...
Sampai kini dada yang berdarah darah terkena panah para penjajah...
Besok akan bernanah...
Lalu lihatlah....
Siapa yang datang dengan jumawah?
Membelai manja obati luka luka bernanah?
Atau aku kalah? Bertahan dengan luka di ranah entah berantah?
Atau datang eksekutor gagah?
Membawa sebilah pedang dan hakimi aku tanpa celah ?
Entahlah.....

Kamis, 05 September 2019

Ilusi diksi

Entah...saat ini sedang mundur,diam atau melangkah..
Seolah kalah...tapi gelisah...
Pikiran tanpa arah...
Belatiku terasah namun sayang pedang patah perisai terbelah...

Diufuk barat makin meredup..
Sayup...
Kuasa tuhan yang buatku takjub..
Malah hujan yang basahiku kuyup..
Hanya tentang sebuah arti hidup..

Fatamorgana dalam geliat asa
Seorang anak adam pada kaum hawa
Membawanya merangkak bergeser diujung nyawa..
Tatkala hampir berkumandang sangkakala..

Disaat yang sama tibalah segerombolan
Penyamun...
Ada yang terbahak..
Ada yang melempari batu..
Ada yang teriak "pecundang"

Tapi sungguh...entah airmata entah peluh...
Dia diam terenyuh.. menyeka darah yang membasuh luka yang mungkin takkan sembuh...
Saat itu dia tersenyum penuh...

Dia sendiri...
Taklagi mampu berdiri.. bergetar jemari
Menggenggam seonggok roti sisa kemarin pagi..
Ingin dia berlari..atau menukar semua roti dengan mencabut belati yang tertancap dihati..

Tapi...
Dia sendiri.. bahkan takmampu walau untuk menyuap sepotong roti...
Lalu...
Salahkah dia jika berharap mati??

Rabu, 28 Agustus 2019

Wasiat Dia

Hari ini....
Kabut mendung menutupi selaput mata sendu
Merajam sejuta busur kesatu arah
Menjadikan jantung arjuna targetnya
Tahta itu menunggu ratu dengan mahkotanya..
Saat tahta terenggut 5 tahun silam
Kini ratu itu hijrah bertahta disinggasana seberang sana...
Adam kini berduka duduk dipuncak piramida segitiga...
Entah dia akan terjun atau malah ikut tertimbun....
Kemarin padinya telah merunduk hampir kuning..
Tapi hari ini sentak saja menjadi ilalang...
Gunung - gunungpun makin tinggi seakan menengadah dagu atas arogannya yang gila..
Tapi hawa masih bertahta...
Kini angin berhembus dari barat
Membawa berita duka 2 buah
Merpati saja diam takmau terbang
Tapi para malaikat bersenandung lirih mencoba bernyanyi dibawah piramida itu menghibur adam..
Padahal diseberang ada sayembara
Raja itu menang tertawa
Ratunya diam menyembunyikan fakta dunia..
Ada yang terinjak tertanam hingga sebatas dada..
Ada yang tak tau ada yang tak mau tau ada pula tak tau harus apa..
Tetap saja pion maju selangkah...
Walau harus mati...
Sumpah aku tak tau wasiat apa ini...
Sejak kemarin pagi hujan...
Lalu ada ledakan tertunda sorenya...
Malamnya berkelana pulang pagi..
Lalu ....
Berlalu ..... tiba-tiba mata sendu hati pilu badan kaku hidup segan mati tak mau...
Aku menulis wasiat sambil berjalan diatas beling pecahan gelisah-gelisah bisu tak terungkap...
YaAllah cabut saja nyawanya yaAllah....
Sungguh aku tak mampu menuliskan apa yang dia rasa...
Orang-orang selalu mengecam hidupnya sejak dia remaja..mereka tak tahu apa yang dihadapinya..
Hanya menghakiminya..menjajah hatinya..menyekat jalannya...
Cabut saja yaAllah...
Peluk dia...

Senin, 19 Agustus 2019

KELANA 2

saat sang surya menyapa malam kutulis sebuah nada lara
diatas luka bercengkramalah dia bersama irama kain perca
lalu bintang tak meredup malah merona purnama
tapi dinginnya malam jogja kala ini seakan jadi pertanda
bahwa ada sebuah hati beku disana
dunia membuat banyak insan terlena di gilanya
sembari menyatap norma - norma
lantas, apakah dia berdusta diatas singgasananya?
atau malah dia tertawa bersama irama kain perca?
atau mungkin ia sedang berduka menulis diatas luka?
maka sungguh sedang menari frasa
ditiap dilematis tertekan antara dua batu sejajar lalu bergerilya

para hantu menuntut lepas belenggu bisu
sayangnya malam kan berlalu
nanti saat burung berkicau menjawab kokok ayam jantan
barulah barisan para rumput bergetar bermandikan butiran embun
entah kemana irama kain perca
atau penuh tulisan diluka?
atau frasa akan menjadi sebuah norma?
wallahu'alam

F.Mirlando

Sabtu, 08 Juni 2019

curahan hati

harus apa aku dengan hati ini???

sungguh serasa mati diri

lagi...

rindu itu datang bertubi menghampiri

tapi.....

dia pergi tak lagi bisa dihubungi...

sementara aku hanya bisa bernyanyi atas rasa yg hantui diri

ratapi,mencari,berdiskusi sendiri,dan sungguh aku berharap mati...

tak ada lagi motivasi

hanya menanti...

satu hal yg aku sadari pasti

aku hanya bisa pandangi dia dari sini sembari bermimpi dia akan kembali nanti

ya hanya dari sini

sosok yg tak akan pernah terganti

dia seseorang yang akan selalu ada dihati


 ðŸ˜­

Kamis, 21 Juni 2018

Vespa berkata

Vespa...
Menurut kalian mungkin hanya sebuah benda, jenaka, langka, atau apalah sebutanya....
Tapi bagi pengendaranya vespa adalah media, saat dimana isi dunia sibuk memperkaya mereka tepis dengan cinta saudara...
Saat dimana wanita memilah pria idaman dengan tahta dan harta...
Mereka bangga dengan apa adanya...
Saat dimana pria meninggalkan kekasihnya karena tak sejalan katanya...
Mereka mencari selah agar bertahan hubungannya.....
Vespa itu bukan fatamorgana dunia...
Vespa adalah fakta bahwa apa adanya bukan hanya omongan belaka....
Vespa itu kaya akan rasa...
Percaya tidak percaya
Tiap pengendaranya bersaudara
Prinsipnya 1 vespa sejuta saudara
Pada dasarnya setia, karena biasanya rusak itu diperbaiki bukan mengganti baru kendaraan bawaanya...
Apalagi urusan cinta pengendara vespa akan cenderung sederhana, karena prioritasnya adalah bersama...
Logikanya jika sayang berjuang itu sama - sama bukan saya atau kamu saja...
Tapi bila sakit balasannya...
Tenaaaaaang..
Anak vespa biasanya tidak dendam hatinya...
Yaaaaa.... paling mereka tidak akan pernah lupa bagaimana sakitnya
Setidaknya untuk pelajaran agar kedepan hubungan baik menantinya...
Dear penghuni dunia....
Ini bukan pencitraan anak vespa
Saya hanya menulis isi hati saja
Berhubung tidak bisa terpejamnya mata dan hati gundah gulana
Maka......
Ah sudahlaaaaa.....
Wkwkwkwk salam mesin kanan sejuta saudara....