Kamis, 05 September 2019

Ilusi diksi

Entah...saat ini sedang mundur,diam atau melangkah..
Seolah kalah...tapi gelisah...
Pikiran tanpa arah...
Belatiku terasah namun sayang pedang patah perisai terbelah...

Diufuk barat makin meredup..
Sayup...
Kuasa tuhan yang buatku takjub..
Malah hujan yang basahiku kuyup..
Hanya tentang sebuah arti hidup..

Fatamorgana dalam geliat asa
Seorang anak adam pada kaum hawa
Membawanya merangkak bergeser diujung nyawa..
Tatkala hampir berkumandang sangkakala..

Disaat yang sama tibalah segerombolan
Penyamun...
Ada yang terbahak..
Ada yang melempari batu..
Ada yang teriak "pecundang"

Tapi sungguh...entah airmata entah peluh...
Dia diam terenyuh.. menyeka darah yang membasuh luka yang mungkin takkan sembuh...
Saat itu dia tersenyum penuh...

Dia sendiri...
Taklagi mampu berdiri.. bergetar jemari
Menggenggam seonggok roti sisa kemarin pagi..
Ingin dia berlari..atau menukar semua roti dengan mencabut belati yang tertancap dihati..

Tapi...
Dia sendiri.. bahkan takmampu walau untuk menyuap sepotong roti...
Lalu...
Salahkah dia jika berharap mati??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar